Mengurai Rindu pada Rasulullah di Taman Surga

Madinah (Kemenag) --- Nabi Muhammad Saw bersabda, ‘Anta ma’a man ahbabta’. Artinya, Engkau akan bersama dengan orang yang kamu cintai. Kalimat ini sungguh sederhana tetapi memiliki arti yang mendalam. Apalagi itu diucapkan Rasulullah Saw.

Kala itu, seorang sahabat bertanya pada Nabi, ‘Ya Rasulullah, kapan kiamat akan terjadi?’ Mendengar pertanyaan tersebut, Nabi terdiam sejenak (ada kesan Nabi tidak suka dengan pertanyaan tersebut). Lalu, Nabi balik bertanya kepada sahabat tersebut; ‘Kalau kiamat terjadi, persiapan apa saja yang sudah kamu lakukan? Sahabat ini dengan sangat polos menjawab ‘tidak ada apa-apa ya Rasulallah.’

Lalu, Nabi dan sahabat itu sama-sama diam. Beberapa saat kemudian sahabat itu melanjutkan, ‘Yang ada padaku ya Rasulallah adalah Aku sangat mencintaimu, melebihi cintaku pada diriku dan lainnya.’ Mendengar jawaban sahabat demikian, Nabi menanggapinya, “Engkau akan Allah bangkitkan bersama orang yang engkau cintai.”

Mendengar jawaban Nabi, sahabat tersebut langsung ke luar dari Masjid Nabawi sambil lari dan berlompat-kegirangan. Hal itu membuat bingung para sahabat yang berada di luar masjid. Mereka bertanya apa yang membuat sahabat itu sangat gembira. Mereka lalu berkumpul mengerumuni sahabat yang tengah bergembira.

Ia terus melompat gembira seraya bertakbir ‘Allahu Akbar Allahu Akbar.” Ketika orang sudah sangat ramai di sekelilingnya, sahabat ini bercerita: ‘Tahukah kalian, apa yang barusan disampaikan Rasulullah kepada saya? Semua sahabat terdiam. Lalu, ia melanjutkan, ketahuilah Nabi baru saja menyampaikan pada saya bahwa “Kamu akan dibangkitkan pada hari kiamat, bersama orang yang kamu cintai.”

Mendengar berita yang datang dari Nabi bahwa Allah akan membangkitkan seorang hamba bersama orang-orang yang dicintainya, semua sahabat yang di luar Masjid Nabawi juga berlompat-lompat seperti sahabat yang tadi. Gembira, bahagia, dan senang hati karena mereka sadar dari segi ibadat sangat lemah, tiada mampu menyamai ibadah Nabi. Tapi, yang mereka punya hanya kekuatan cinta dan rindu karena mereka tidak kuat jauh dari Nabi.

Hal yang sama juga kita rasakan. Apalah arti ibadah yang kita lakukan, ibadah yang sering kita lupa dan lalai. Kita hanya berharap cinta dan rindu kita yang terasa membuncah akan mengantarkan kita menuju surga Allah bersama kekasihNya,

Rasa cinta dan rindu berkecamuk di setiap umat muslim yang berkesempatan menziarahi makan Rasulullah. Maka, tak heran banyak orang ketika ziarah Nabi di Madinah, air mata tiba-tiba mengalir deras. Hal demikian yang juga dirasakan penulis. Sesaat kaki melangkah mulai memasuki pelataran depan pintu masjid menuju Raudhah, air mata langsung membasahi kelopak mata, lalu perlahan turun mengalir deras, tanpa bisa ditahan, seperti gambaran isi hati, betapa besar cinta dan rindu semua umatmu ini ya Rasulallah.

Semakin coba melerai perasaan rindu ini dengan untaian shalawat, semakin terpatri di hati, sosok Rasulullah yang sangat mencintai umatnya. Semoga kita termasuk umatnya yang mendapatkan syafaat dari Rasulullah. Begitulah doa yang dipanjatkan umat Islam dari seluruh penjuru dunia. Ada perasaan takjub dan tak percaya kala merindu pada lelaki pilihan, sang kekasi Allah. Ingin berlama-lama menguraikan Rindu pada Rasulullah di Taman Surga ini.

Saat berada dalam Taman Surga (Raudhah), masing-masing larut dalam kekhusukan doa-doa yang dipanjatkan, seperti berlarut dalam ‘me time’, mengadu sesenggukan semua persoalan, kemudian berlanjut menggugat, meminta belas kasih sayangNya dengan wasilah Nabiyallah. Isak lirih bersautan mencoba mengurai rindu yang serasa sesak di dada. Terasa lega hati saat sudah mengadukan semua kepada sang Maha.

Masuk dalam Raudhah ada kalanya sebuah peruntungan yang penuh misteri. Ketika berhasil masuk dengan lancar dan mudah, merasa mendapat perkenan ridha dari Allah juga Nabi Muhammad SAW untuk berjumpa. Pun saat menemui kesulitan, bahkan tidak bisa masuk, seperti kurang diperkenankan saat itu. Ikhlaskan jika memang terjadi demikian.

Suatu waktu, kami tim Media Center Haji (MCH) Daerah Kerja (Daker) Madinah mendapat jadwal masuk sesuai tasreh (surat izin) pukul 22.00 WAS. Saat itu, semua sudah di jalur antrian masuk tepat waktu, kecuali saya dan dua orang teman lainnya. Kami bertiga (Hikmah, Khairina, Erniwati) akhirnya tertinggal rombongan karena kami datang terlambat masuk antrian.

Semua rombongan sudah di dalam, sementara lembaran tasreh dibawa bersama mereka. Kami bertiga hanya mampu terdiam sedih sambil terus bershalawat menghibur diri. Tidak tinggal diam, kami coba tanya petugas di sana, semua jawabannya ‘La’ “Tidak”. Meskipun kami coba jelaskan dengan bahasa yang seharusnya cukup dimengerti satu sama lain.

Tak lama tetiba menghampiri kami sosok bercadar yang terlihat baik, langsung mengajak kami mengikuti langkahnya. “Just follow me” kata dia. Masya Allah akhirnya kami bertiga masuk Raudhah.

Lain waktu, kami kembali memperoleh tasreh masuk Raudhah, dengan jadwal jam yang sama. Tentu kami sangat bersemangat dapat kesempatan kembali masuk Raudhah. Kami ingin “me time” di Taman Surga. Kami menuju ke Raudhah satu jam lebih awal dari jadwalnya. Tapi di perjalanan menuju pintu Raudhah, di salah satu sudut pelataran Masjid Nabawi, kami temui dua orang kakek. Keduanya ialah jemaah haji dari provinsi yang berbeda, satu berasal dari Jawa Tengah dan satunya lagi dari Lombok. Mereka berdua mengaku lupa jalan pulang ke hotel. Keduanya tidak membawa identitas. Jadi kami butuh waktu untuk mencari tahu hotel mereka.

Kami langsung putuskan menolong keduanya untuk kembali ke hotel tempat mereka menginap. Artinya, tidak mungkin terburu menemui rombongan dan ikut antri bersama masuk Raudhah. Kami lupakan keinginan ke Raudhah. Saat itu, dipikiran kami sama, belum dapat Ridha Allah untuk masuk kembali ke Taman SurgaNya. Allah lebih menginginkan dan menggerakan kami menolong dua kakek tersebut, begitu prasangka baiknya.

Keesokan harinya, usai salat Subuh di Pelataran Nabawi, sambil terus shalawatan, tak lama kemudian kami didera rasa haus. Sejenak merapikan perangkat salat lalu berjalan memasuki masjid yang mulai berangsur lengang, untuk mengisi botol minuman dengan air zam zam. Di pojok dekat barisan gallon zam-zam seorang ibu duduk terpaku seorang diri di atas kursi roda. Sayup terdengar dia bertanya kepada siapapun yang melintas di depannya “Jalan ke Raudhah arahnya ke mana,” tanyanya.

Kami bertiga mendekati Ibu tersebut, “Ibu mau ke Raudhah? Mana pendamping ibu?” tanya kami berbarengan.

“Saya tadi ke Masjid diantarkan suami. Tapi saya sudah pesan untuk tidak perlu dijemput, karena saya ingin sekali ke Raudhah. Sudah sejak lima hari lalu saya menunggu diajak ke Raudhah, tapi belum ada. Saya yakin banyak orang baik yang akan antarkan saya ke Raudhah,” jawabnya penuh harap.

“Siap, kami akan antar Ibu ke Raudhah sekarang,” jawab kami bertiga dengan yakin. Padahal kami sendiri pun belum tahu bagaimana caranya mengantarkan ibu ini ke Raudhah tanpa tasreh.

Pelan kami dorong kursi rodanya sambil sesekali mengajaknya ngobrol sedikt menanyakan identitasnya sebagai jemaah haji. Saat bertemu seorang “cleaning service” di depan salah satu pintu masjid, saya bertanya “Raudhah?” lalu dia menjawab dengan Bahasa Indonesia “Masuk pintu itu”.

Kami bergegas masuk, lancar, tidak ada hambatan, Cuma harus sedikit antri sebentar. Pikiran kami bertiga sama-sama berkecamuk, apakah ini cara Allah perkenankan kami menziarahi Rasulallah sembari melangitkan doa-doa. Kami akhirnya berhasil masuk, kembali untuk memanjatkan doa-doa dan sejenak melepaskan bongkahan demi bongkahan rindu kepada Rasulullah lewat doa dan shalawat. Kabulkan lah doa kami, ya Rahman ya Rahim.

Widyawan Sigitmanto
Widyawan Sigitmanto Admin Simkah Web Id sejak dibuat sampai sekarang ;)
Sawer Admin via : Saweria