Kenapa Komplain Fasilitas di Mina? 

Di antara tambahan pelayanan yang diberikan pemerintah Indonesia untuk jemaah haji 1445 H/2024 M adalah menyewakan tenda-tenda di Mina yang lebih dekat dengan tempat lontar jumrah (Jamarat). Di tahun-tahun sebelumnya jemaah haji Indonesia reguler biasanya ditempatkan di Mina Jadid yang berjarak 6 km hingga 8 km dari Jamarat. Pada tahun ini tenda yang ditempati jemaah haji Indonesia semuanya di tanah Mina yang berjarak paling jauh 5 km dari Jamarat.

Walaupun demikian, penempatan kemah jemaah haji yang lebih dekat dan lebih mahal harga sewanya itu ternyata menuai kritik. Dalam siaran media sosial yang dikirimkan langsung jemaah haji yang bisa ditonton langsung warga Indonesia, dilaporkan jamaah mengeluhkan fasilitas di Mina. Mereka mengeluhkan tenda yang sempit dan over kapasitas penghuninya, serta keluhan lain yang berhubungan dengan fasilitas di Mina.

Masyarakat di tanah air banyak yang terpancing pemberitaan itu dengan memberikan komentar-komentar negatif terhadap pelayanan pemerintah terhadap jemaah haji. Hal itu dapat dimaklumi sebab kebanyakan mereka juga belum pernah menginjakkan ke bumi Mina dan minim pengetahuan mereka tentang ekosistem haji.

Pada dasarnya, bumi Mina luasnya hanya 7,82 km2. Itupun 39 persennya merupakan pegunungan terjal. Jadi kira-kira yang layak dijadikan ruang mabit adalah 61 persennya atau 4,8 km2. Belum lagi dikurangi untuk fasilitas jalanan, trotoar, dan fasilitas umumnya lainnya. Kira-kira tersisa 2,2 km untuk lahan mabit jemaah haji.

Padahal jemaah haji yang mabit di Mina lebih dari 2 juta, belum termasuk petugas yang melayani jemaah haji selama di Mina, mulai dari tukang masak, tukang kebersihan, keamanan, dan sebagainya.

Jadi kalau tenda di Mina overload dan rata-rata jemaah haji menempati ruang kurang dari 1 meter, maka hal tersebut bisa dimaklumi. Begitu pun jika jemaah haji merasakan kekurang-nyamanan di Mina juga dapat dimengerti.

Akan tetapi kalau saling menyalahkan maka hal itu kurang tepat adanya. Pada dasarnya melihat Mina butuh kejelian mata, keterbukaan akal, dan keluasan dada. Seorang muslim yang sudah pernah menunaikan haji, biasanya memilih cara tanazul dengan cara ijin memisahkan diri untuk tidak menempati tenda di Mina. Terutama jika hotel penginapan mereka selama di Mekkah di daerah Syisyah dan Raudhah yang relatif lebih dekat dekat Jamarat.

Ber-tanazul dibolehkan sebagaimana Rasulullah mengijinkan kepada pamannya Abbas bin Abdul Muthalib dengan alasan menjaga barang bawaan dan hewan ternak. Jemaah haji yang melakukan tanazul bukan berarti sama sekali tidak mabit di Mina. Mereka tetap bermalam di Mina hanya dalam waktu sebentar di sekitar bangunan Jamarat. Jika ada patroli polisi atau Askari Saudi, maka mereka biasanya pura-pura bergerak supaya tidak kelihatan bergerombol.

Ada juga jemaah haji yang tidak mabit pada malam 11 Zulhijjah, karena menggunakan pendapat Ulama yang membolehkan mengganti membayar fidyah selayaknya sedekah yang diberikan kepada fakir miskin. Mereka baru kembali ke Mina pada siang hari 11 Zulhijjah atau sore menjelang magrib malam 12 Zulhijjah untuk melontar jumrah Ula, Wusta, dan Aqabah dan mabit di sekitar bangunan Jamarat di Mina hingga pagi harinya.

Itulah tatacara yang bisa dilakukan jemaah haji untuk menghindari persoalan keterbatasan fasilitas di Mina. Semoga tulisan ini dapat melapangkan dada para jemaah haji untuk mencapai kemuliaan haji mabrur yang dicirikan dengan: tidak berkata keji, tidak fasik, dan tidak berdebat yang tidak ada gunanya. Amiin

Widyawan Sigitmanto
Widyawan Sigitmanto Admin Simkah Web Id sejak dibuat sampai sekarang ;)
Sawer Admin via : Saweria