"Kami adalah Badui-badui Pecintamu ya, Rasul!"

Matahari merambat naik. Bergantung di ufuk dekat. Udara bertabur kristal. Menyapa tanah Madinah Munawwarah-- "Kota Bermandi Cahaya"--, dengan terik. Terik membalut tubuh. Menembus ubun-ubun, merambat ke telapak.

Bulu-bulu halus di badan rebah. Dari kulit kepala hingga betis, lubang-lubang halus berkirim cairan. Anda berani bertaruh, apa 'kan terjadi jika pori-pori tak pernah ada? Atau tersumbat hingga cairan tertahan? Itu bisa bikin nyawa lepas tau'.

Pada suatu masa, Tuhan berbicara kepada utusannya, Muhammad SAW, dalam kata-kata retoris. "Apa pendapatmu, jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus-menerus sampai hari Kiamat." (QS. Al Qashsas:72).

Sejak matahari bersiap terbit, orang-orang mulai menginvasi kota. Mandi jam segitu, bak mengguyur tubuh dengan air es. Karena kondisi jalan yang padat, tiba di kota jam 07.30. Suhu tubuh sudah meningkat. Hangat. Tengah hari, jalan-jalan kota memuai.

Jam 12 an, temperatur naik antara 45 hingga 47 derajat celcius. Cuma dua jam setelahnya, jam 14.00 an, hamparan aspal yang melapisi jalan-jalan Madinah, menyemburkan asap. Boleh jadi, permukaan jalan-jalan di Kota Nabi membara, antara 58 hingga 65 derajat celcius.

Lapisan atmosfer setebal 1000 km. di horison langit, tak mampu membendung tumpahan sinar matahari menembus semua pori-pori bumi. Bumi pun berteriak. Teriakannya menghantam dada. Manusia pun sujud.

Dapatkah kita membayangkan jawaban untuk pertanyaan retoris Allah di atas? Andaikata matahari mendadak berhenti, tidak beranjak, menahan diri dan tidak berputar? Persis di titik tengah langit, selurus ubun-ubun kita? Tidak bergerak ke tempat biasa terbenam? Selamanya.

Siang tak pernah berganti malam. Terik menerjang. Panas yang membuat kulit melepuh. Andaikata, selama dua hari alias 2 kali 24 jam? Temperatur bisa mencapai angka ribuan derajat celsius.

Kalau itu terjadi, maka semua cairan di muka bumi akan menguap. Seluruh lautan akan mengering. Samudera akan tinggal palung meranggas. Salju di dua kutub, utara dan selatan, akan meleleh. Menciptakan benua baru yang gersang.

Jika siang berlanjut dua hari lagi, maka semua cairan tubuh lenyap. Darah akan mengering. Daging di tubuh menyusut dan mengeras. Untuk mengakhiri kehidupan, tak perlu menunggu Hari Kiamat tiba. Cukup matahari "wukuf" di atas kepala selama 4 x 24 jam! Dan, badai kematian pun datang bergulung-gulung.

***

Kurang lebih seribu lima ratus tahun lalu di siang itu. Dengan kondisi matahari yang sama dari tahun ke tahun, seorang Arab badui, berjingkat-jingkat menahan panas Madinah. Keluar kampung sejak matahari masih setinggi tombak.

Dan, siang itu ia sudah menjejakkan kaki di lantai tanah Masjid Nabawi. Menyibak bahu sejumlah sahabat yang mulia, dan ia berhenti persis di belakang Nabi. Saat waktu salat akan segera tiba, Nabi berada dalam pekur. Pekur menyulam jiwa.

Barisan salat pun sudah bersiap. Si Badui bersuara. "Maaf, Nabi. Kapan kiamat tiba?" Para sahabat takjub. Sungguh berani orang itu, batin mereka. Nabi menoleh tapi tak menjawab. Usai salat, Nabi bertanya siapa tadi yang bertanya.

"Saya," jawab orang kampung itu. Nabi bertanya balik. "Apa yang telah engkau persiapkan menghadapi hari itu?" Laksana batang pohon dicabut dari akar, badui itu gemetar. Matanya nanar. Dada bergemuruh. Wajah pucat. Bibir kering.

Siang itu masjid Nabawi menjelma bak hamparan lahan yang tandus. Semua tanaman rebah. Semua sahabat runduk. Dengan sisa tenaga, orang badui itu menjawab. "Aku tidak menyiapkan apa pun ya, Nabi. Salat, puasa, dan umrahku tidak banyak. Hanya saja, saya sangat cinta Allah dan Rasul-Nya," katanya sedu.

Para sahabat tercekat. Mereka merasa diri badui-badui yang tak berdaya. "Belum pernah selama ini para sahabat Nabi setegang itu," kata sahabat Anas bin Malik.

Mereka merasa tidak cukup amal untuk menghadapi datangnya kiamat. Siang itu, suhu tubuh mereka mendadak naik meningkat berlipat-lipat. Gambaran panas suasana Hari Kiamat menyelinap. Atmosfer bumi menganga akibat robek berat.

Seberat punggung para sahabat Nabi yang hadir di masjid siang itu. Tak kuasa mengangkat kepala. Rasa cemas menguasai diri. Hingga Rasul bersabda, "Anta Ma'a Man Ahbabta--Engkau akan bersama dia yang kaucintai." Subhanallah!

Badui itu tersentak. Haru menyelimuti diri. Jiwanya terlonjak. Pembuluh darah berdenyut. Rasa senang tiada terkira. Jantungnya kembali berdenyut normal. Para sahabat tercekat. "Apakah ini cuma untuk dia ya, Rasul?" mereka berharap-harap cemas.

"Untuk semua yang cinta Allah dan Rasul-Nya," jawab Baginda. "Seperti kembang yang diguyur air surga, batang-batang layu merekah kembali," ujar Sahabat Anas bin Malik melaporkan peristiwa itu kepada kita. "Belum pernah saya menyaksikan sahabat bersuka cita seperti saat itu."

***

Siang itu, Masjid Nabawi, 28 Juli 2024. Hari terakhir agenda ziarah rombongan MCH Daker Makkah al Mukarramah di Kota Nabi. Kurang lebih seribu lima ratus tahun usai peristiwa badui di hadapan Nabi, khatib Jum'at Sheikh Khudaify, mengutip ayat 72 Al Qashash.

"Qul ara'aitum in ja'alallaahu 'alaikumun nahaara sarmadan ilaa Yawmil Qiyaamati--Katakanlah! Apa pendapatmu, jika Allah jadikan untukmu siang itu terus-menerus sampai hari Kiamat." Dan Madinah pun membara!

Dalam dekapan panas, para jemaah haji berharap dapat menjadi badui-badui beruntung. Sangat jelas, catatan amal tidak banyak. Salat sedikit. Puasa biasa-biasa saja dan haji-umroh yang pasti tidak sempurna.

Dengah bibir bergetar. Lidah kelu. Mulut berusaha berucap, "Isyfa' lana ya, Rasulallah. Ya Wajiihan ‘Indallah--Kiranya Baginda berkenan memberi kami syafaatmu. Duhai! Yang berkedudukan tinggi di hadapan Allah! Jadikan kami badui-badui pecintamu!

*Tabik untuk "mantemans" MCH Madinatur Rasul 2024

Ishaq Zubaedi Raqib --MCH Daker Makkah Mukarramah.

Widyawan Sigitmanto
Widyawan Sigitmanto Admin Simkah Web Id sejak dibuat sampai sekarang ;)
Sawer Admin via : Saweria