Alfatihah Sajariyah untuk Petugas Haji Indonesia

Sajariyah (paling kiri), jemaah difable netra dari Sulawesi Selatan membacakan surat Alfatihah bagi seluruh petugas haji Indonesia (foto: MCH 2024)

Makkah (Kemenag) --- Tangan Sajariyah (65) menengadah sembari mulutnya melantunkan ayat demi ayat surat Al-fatihah. “Saya bacakan Al-fatihah untuk seluruh petugas haji Indonesia, saya doakan juga seluruh umat muslim Indonesia agar bisa berhaji ke Makkah,” tutur jemaah haji asal Pare-pare, Sulawesi Selatan di Makkah, Selasa (28/5/2024).

Di hadapannya, tampak Kepala Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Daerah Kerja Makkah Khalilurrahman mengaminkan doa-doa Sajariyah. “Terima kasih banyak, Bu atas doanya. Doakan kami para petugas, agar dapat selalu melayani para jemaah dengan baik. Bila ada pelayanan yang masih kurang, silakan sampaikan ke kami ya, Bu,” sahut Khalilurrahman kepada Sajariyah.

Sajariyah adalah salah satu dari 82 jemaah haji Indonesia penyandang disabilitas. Menyandang difable netra sejak kecil, tak pernah menyurutkan cita-citanya ke Baitullah. Ia mengaku hanya bermodal keinginan dan niat. Tuhan, kata dia, tahu kalau dirinya tak punya uang.

Beruntung, Sajariyah dikelilingi oleh orang-orang yang luar biasa. Berkat bantuan sang adik dan keluarganya, ia bisa mendaftar tahun 2010. Selama masa menunggu itu, Sajariyah pun terus memperbaiki kualitas ibadahnya. Ia menjalani puasa Daud. Salat tahajud pun tak pernah luput.

Setibanya di Makkah, ia mengaku sangat bahagia. “Senang sekali di Makkah, enak di sini,” kata Sajariyah dalam bahasa Bugis sambil tersenyum.

“Saya di sini tak mau belanja, ingin ibadah terus,” sambungnya.

Di tanah haram ini, Sajariyah pun ingin membalas semua kebaikan orang yang pernah menolongnya. ''Saya mendoakan semua muslim di Indonesia sehat. Semuanya bisa berkunjung ke sini,'' ujarnya.

Ada satu yang masih menjadi keinginan Sajariyah. Ia ingin mencium Hajar Aswad. Sajariyah yakin bisa melakukannya karena mampu merampungkan Thawaf tanpa bantuan kursi roda. Bahkan, ia melakukannya di Mathaf atau tempat Thawaf utama.

Namun, keinginan itu rasanya akan sulit dicapai. Kepala Daerah Kerja Makkah, Khalilurrahman meminta Sajariyah tak memaksakan diri untuk mencium Hajar Aswad. Selain karena bukan ibadah wajib, kepadatan jemaah akan menimbulkan risiko tinggi.

Meski begitu, dia mengapresiasi semangat dan kemandirian Sajariyah. Tak semua orang, kata dia, bisa seperti Sajariyah. ''Saya sangat senang melihat semangat beliau, luar biasa,'' ujarnya.

Semantara itu, Hafida Jufri, petugas kesehatan haji, yang mendampingi Sajariyah mengamini kemandirian perempuan itu. Keterbatasan yang ada tak membuatnya pasrah. Semangatnya untuk berhaji, kata Hafida, luar biasa. "Dia gak ada penyakit bawaan. Saya input di Siskohatkes, dia hanya bawa vitamin Enervon C dan minyak kayu putih, gak ada obat lain," ujar Hafida.

Bahkan, selama di Madinah, Sajariyah selalu melaksanakan salat di masjid Nabawi. "Beliau ini salat Arbainnya bahkan penuh saat di Madinah," ujarnya. Salat Arbain sendiri adalah ibadah salat wajib 40 waktu tanpa terputus di Masjid Nabawi.

Ibadah itu bisa dilakukannya karena letak hotelnya dekat dengan masjid. Sebenarnya, saat di Makkah dia juga punya niatan untuk selalu salat ke Hasjidil Haram. Lantaran jaraknya jauh, ia disarankan tetap salat di musala hotel.

Ia juga cukup mandiri. Bahkan, sejak berangkat, ia tidak ditemani pendamping khusus. Sajariyah, kata Hafida, daftar haji sejak 2010. Ia dibiayai adik dan keluarganya. Sebagai balasan, Sajariyah bahkan sudah menyiapkan oleh-oleh untuk keluarganya di Tanah Air. ''Beliau juga mendoakan keluarganya bisa ke sini,'' ujar Hafida.

Widyawan Sigitmanto
Widyawan Sigitmanto Admin Simkah Web Id sejak dibuat sampai sekarang ;)
Sawer Admin via : Saweria